Efisiensi stok bukan sekadar soal membeli daging murah, melainkan bagaimana mengatur alur masuk dan keluar barang agar setiap gram daging yang dibeli menghasilkan keuntungan maksimal. Artikel ini akan membahas strategi praktis dan teruji untuk mengelola stok daging, sehingga operasional katering lebih efisien, kompetitif, dan menguntungkan.
Bagi katering skala besar maupun UMKM, tantangan utama daging terletak pada sifatnya yang perishable (cepat rusak). Jika Anda menyetok terlalu banyak, risiko oksidasi dan freezer burn mengintai. Jika terlalu sedikit, Anda kehilangan daya tawar harga grosir dan berisiko mengecewakan klien saat pesanan mendadak datang.
Manajemen stok yang efisien berdampak langsung pada:
Langkah pertama dalam efisiensi bukanlah di dapur, melainkan di meja kerja. Penting untuk memahami berapa banyak daging bersih yang dapat diperoleh dari setiap kilogram daging kotor yang dibeli.
Banyak pengusaha katering pemula hanya menghitung harga beli per kilogram tanpa memperhitungkan penyusutan setelah lemak dibuang (trimming) maupun setelah dimasak.
Misalnya, jika Anda membeli 10 kg daging untuk rendang, beratnya mungkin hanya tersisa 6–7 kg setelah dimasak. Memahami angka yield ini akan membantu Anda memesan jumlah yang tepat dan menghindari kelebihan stok yang mubazir.
Susun menu yang memungkinkan satu potongan daging digunakan untuk berbagai jenis masakan agar lebih efisien. Misalnya, stok daging nusantara yang melimpah bisa dimanfaatkan untuk menu Rendang, Empal, maupun Soto daging tanpa harus membeli potongan baru.
Strategi ini tidak hanya mengurangi pemborosan, tetapi juga mempercepat perputaran stok (stock turnover) di dapur. Dengan begitu, pengusaha katering bisa menjaga kesegaran daging sekaligus mengoptimalkan biaya operasional.
Jenis Potongan | Persentase Yield (Matang) | Rekomendasi Menu |
Paha Belakang (Topside) | 60% - 65% | Rendang, Dendeng, Empal |
Punuk (Blade) | 55% - 60% | Rawon, Semur, Oseng-oseng |
Has Dalam (Tenderloin) | 75% - 80% | Steak Premium, Sapi Lada Hitam |
Iga (Ribs) | 45% - 50% | Sup Iga, Iga Bakar |
Salah satu perdebatan klasik dalam katering adalah memilih antara daging segar dan daging beku. Untuk menjaga efisiensi operasional, daging beku berkualitas sering kali menjadi solusi yang praktis.
Daging beku memungkinkan pengusaha katering membeli stok dalam jumlah besar ketika harga pasar sedang stabil, sehingga dapat menghemat biaya pembelian. Selain itu, penggunaan daging beku memudahkan pengaturan persediaan karena umur simpan yang lebih panjang dibandingkan daging segar.
Banyak penyedia jual frozen food kini menawarkan potongan daging yang sudah diporsi (portion control), sehingga pengusaha tidak perlu memotong manual di dapur. Hal ini tidak hanya menghemat waktu dan tenaga kerja, tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan saat memotong daging, sehingga operasional dapur menjadi lebih aman dan efisien.
Pastikan supplier memiliki sertifikasi halal serta sistem rantai dingin (cold chain) yang terjaga dengan baik. Hal ini menjamin bahwa daging yang diterima aman dikonsumsi sesuai standar agama dan tetap segar sepanjang proses distribusi.
Fluktuasi suhu saat pengiriman adalah musuh utama kualitas daging, karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan menurunkan kesegaran. Oleh karena itu, pemantauan suhu secara konsisten selama pengiriman sangat penting untuk menjaga tekstur, rasa, dan keamanan daging.
Dapur katering yang sibuk sering kali melupakan sistem inventarisasi yang rapi. Padahal, penataan freezer adalah kunci efisiensi.
Katering yang cerdas memahami pentingnya memilih potongan daging sesuai kebutuhan menu dan acara. Untuk acara VIP atau menu spesial, potongan premium seperti ribeye dengan marbling tinggi dan tekstur lembut akan memberikan pengalaman rasa yang istimewa bagi tamu.
Sementara itu, untuk konsumsi harian atau paket ekonomis, bagian paha belakang (topside) bisa menjadi alternatif yang hemat namun tetap lezat. Dengan teknik pengolahan yang tepat, potongan ini tetap menghasilkan daging yang empuk dan memuaskan tanpa harus mengorbankan kualitas.
Lakukan evaluasi stok setiap akhir pekan untuk memeriksa apakah ada daging yang terbuang akibat basi atau kesalahan pemotongan. Jika limbah mencapai lebih dari 5% dari total pembelian, ini menandakan adanya masalah dalam proses pengadaan atau penyimpanan yang perlu segera diperbaiki.
Manfaatkan teknologi sederhana untuk memantau stok, seperti aplikasi inventaris atau tabel Excel, agar setiap pergerakan daging tercatat dengan rapi. Dengan catatan yang teratur, Anda bisa mengidentifikasi tren penggunaan, mencegah pemborosan, dan membuat keputusan pembelian lebih efisien.
Berapa lama daging bisa bertahan di dalam freezer katering?
Secara teknis, daging sapi bisa bertahan hingga 6-12 bulan di suhu -18°C. Namun, untuk menjaga kualitas rasa terbaik bagi katering, disarankan untuk tidak menyimpan stok lebih dari 3 bulan.
Apakah daging beku lebih murah daripada daging segar?
Sering kali ya, karena daging beku diproses saat pasokan melimpah. Selain itu, daging beku membantu efisiensi karena minimnya risiko penyusutan akibat penguapan dibanding daging segar yang digantung.