Dalam satu dekade terakhir, konsumsi daging di Indonesia terus meningkat. Bukan hanya daging ayam, tetapi juga sapi, kambing, dan produk olahan kini menjadi bagian dari menu harian masyarakat. Tren ini mencerminkan perubahan gaya hidup, meningkatnya daya beli, dan kesadaran akan pentingnya asupan protein hewani.
Peningkatan ini membuka peluang besar bagi peternak, pelaku usaha kuliner, hingga industri pengolahan daging dalam negeri. Artikel ini akan membahas faktor pendorong tren konsumsi daging, jenis daging yang paling diminati, serta tantangan yang menyertainya.
Seiring meningkatnya pendapatan per kapita, masyarakat Indonesia kini lebih mampu membeli produk pangan berkualitas, termasuk daging. Perubahan daya beli ini mendorong pergeseran pola makan, di mana protein hewani menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi daging sapi per kapita terus tumbuh dengan rata-rata kenaikan sekitar 1,3% per tahun, mencerminkan tren peningkatan permintaan yang stabil di berbagai lapisan masyarakat.
2. Perubahan Gaya Hidup dan Urbanisasi
Gaya hidup urban yang serba cepat turut mendorong naiknya konsumsi daging. Masyarakat kota kini lebih memilih makanan praktis dan berkualitas, termasuk daging olahan, produk siap masak, dan daging steak yang banyak tersedia di restoran maupun supermarket.
Selain itu, tren pemesanan makanan lewat aplikasi online juga memperbesar permintaan, terutama di sektor hotel, restoran, dan kafe yang mengandalkan menu berbasis daging.
Masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya protein hewani untuk menunjang kesehatan. Protein dari daging berperan dalam mendukung pertumbuhan, memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga daya tahan.
Kesadaran ini mendorong banyak keluarga menjadikan daging sebagai bagian rutin dari pola makan harian. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi, konsumsi daging juga diyakini dapat menjaga vitalitas dan kebugaran tubuh.
1. Daging Sapi
Daging sapi tetap menjadi komoditas utama konsumsi masyarakat meski produksinya belum mencukupi kebutuhan nasional, dengan perkiraan konsumsi pada 2025 mencapai 2,60 kg per kapita per tahun dan kebutuhan sekitar 740.000 ton, sementara produksi hanya 445.000 ton sehingga defisit pasokan masih harus dipenuhi lewat impor.
2. Daging Ayam
Daging ayam masih mendominasi konsumsi daging karena harganya yang terjangkau dan ketersediaannya dalam berbagai bentuk olahan. Rata-rata konsumsi mencapai lebih dari 8 kg per kapita per tahun, menjadikannya sumber protein hewani utama bagi masyarakat.
3. Daging Kambing dan Babi
Walaupun konsumsi daging kambing dan babi masih terbatas dan lebih spesifik pada kelompok masyarakat tertentu, permintaan untuk kedua jenis daging ini juga mengalami peningkatan yang stabil, terutama pada momentum tertentu seperti perayaan dan acara adat.
Tahun | Daging Sapi (kg) | Daging Ayam (kg) | Daging Babi (kg) | Daging Kambing (kg) |
2019 | 2.56 | 7.0 | 2.3 | 0.4 |
2023 | 2.44 | 8.0 | 2.5 | 0.5 |
2025* | 2.60 (perkiraan) | 8.4 (perkiraan) | 2.6 (perkiraan) | 0.6 (perkiraan) |
Produksi daging dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, terutama untuk daging sapi. Pada 2025, defisit diperkirakan mencapai hampir 300 ribu ton.
Kondisi ini membuat Indonesia sangat bergantung pada impor untuk menutup kekurangan pasokan dan menjaga stabilitas harga di pasar.
Fluktuasi harga daging menjadi salah satu tantangan utama yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Saat harga melonjak, daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah cenderung menurun.
Akibatnya, banyak konsumen mengurangi porsi atau frekuensi konsumsi daging dan beralih ke sumber protein yang lebih murah, seperti telur, tempe, atau melakukan pembelian di toko dagingyang menawarkan ragam produk dengan harga bersaing.
Peternakan skala besar sering dikaitkan dengan tingginya emisi karbon dan penggunaan air yang masif. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat memperburuk krisis iklim dan merusak lingkungan.
Karena itu, praktik peternakan berkelanjutan penting diterapkan, seperti efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah ramah lingkungan, dan penggunaan teknologi hijau untuk menekan emisi.
Dampak Positif Tren Konsumsi Daging
1. Mendorong Pertumbuhan Industri Peternakan Lokal
Permintaan daging yang terus meningkat mendorong peternak lokal untuk memperluas skala produksi, sekaligus membuka peluang bagi peternak kecil dan menengah untuk mengembangkan usaha mereka.
Jika dikelola dengan strategi yang tepat, tren ini dapat memperkuat kemandirian industri peternakan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
2. Menciptakan Lapangan Kerja Baru
Kenaikan konsumsi daging berdampak pada terbukanya lebih banyak lapangan kerja di berbagai sektor. Peternak, sopir pengangkut, karyawan rumah potong hewan, dan pelaku UMKM makanan turut merasakan manfaat ekonomi dari meningkatnya permintaan pasar.
Termasuk di dalamnya usaha toko daging dan jual frozen food yang membantu memenuhi kebutuhan makanan harian keluarga.
3. Meningkatkan Ketahanan Pangan
Ketersediaan pasokan daging yang stabil membantu memenuhi kebutuhan protein masyarakat Indonesia serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kondisi ini penting untuk mendukung tumbuhnya generasi yang sehat dan produktif, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor pangan dalam jangka panjang.
FAQ
Simpan dalam freezer dengan suhu -18°C dan gunakan wadah tertutup. Untuk penyimpanan pendek, gunakan kulkas dengan suhu 0–4°C.
Kemungkinan besar, iya. Dengan meningkatnya pendapatan dan gaya hidup modern, konsumsi daging diprediksi terus naik beberapa tahun ke depan.